TV, kalo bicara masalah ini tentu akan sangat panjang ceritanya, tentu kita masih ingat dicekalnya acara smackdown (siaran gulat bebas dari amerika) karena mempengaruhi anak-anak untuk meniru gulat tersebut. Namun juga harus disadari bahwa arus modernisasi dan arus kecepatan informasi saat ini tidak berbanding lurus dengan kemampuan kita dalam melakukan antisipasi, penerimaan dan pemahaman akan sesuatu hal yang dapat dikatakan baru. Tentunya apapun itu setiap ciptaan manusia akan selalu memiliki dua kutub negatif dan positif, dan pilihan tetap ada ditangan kita. TV benda ini dimasa sekarang tidak lagi sebagai sebuah benda mewah yang hanya dimiliki oleh segelintir orang tetapi sudah menjadi bagian hidup bagi sebagian besar masyarakat dan mudah ditemui, kecuali teknologi yang dibawanya hanya itulah yang membedakannya antara satu TV dengan TV yang lain. Saya akan mengulas tidak dari sisi teknologinya tetapi lebih kepada bagaimana kita seharusnya memperlakukan TV terutama yang berkaitan dengan konten program acaranya terhadap perilaku perkembangan anak-anak kita.
Acara smackdown sendiri di negara asalnya sudah berlangsung lama, namun kita jarang sekali kita mendengar kejadian karena pengaruh acara TV smackdown seperti di Indonesia, kemudian sekarang ini yang lagi menjadi topik adalah acara sinetron yang tidak mendidik maupun tayangan reality show yang mengada-ada hingga mengorek kehidupan pribadi orang lain (apa bedanya dengan acara gosip ya?). seperti sudah saya singgung diatas semua ciptaan manusia selalu memiliki dua sisi, contoh sederhana adalah pisau dapur yang tajam jika digunakan sesuai dengan tujuannya hasilnya akan baik, tetapi jika digunakan untuk menodong orang, atau menjadi mainan anak kecil maka hasilnya akan fatal. Smackdown mengajarkan kekerasan, sinetron hanya mengajarkan romansa sempit, gosip dan reality show hanya mengajarkan hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk menilai seseorang secara negatif, dan sebagainya.
Namun TV juga sarana yang sangat efektif bagi anak untuk belajar, mengapa? karena kemampuan otak kita akan lebih mudah menyerap sesuatu secara visual dibandingkan bila hanya dengan mendengar dan membaca. Anak-anak akan mudah sekali belajar mengenai hewan dari tayangan TV, kejadian morfologis dari kupu-kupu, katak, pemahaman akan warna, bentuk, tentunya akan merangsang pikiran kreatif dalam otaknya, serta menambah kemampuan kosa katanya karena mendengar dan melihat.
Nah, bagaimana sikap kita sebagai orang tua, ini yang harus menjadi perhatian kita, bila kita selalu menempatkan diri bahwa orang tua adalah sumber pengetahuan yang pertama bagi anaknya tentu kejadian seperti kasus smackdown tidak akan terjadi, banyak orang tua/pengasuh yang menganggap TV sebagai 'babysitter' dengan membiarkan sianak anteng didepan tv yang penting tidak rewel dalam waktu lama tanpa didampingi. Kita-lah seharusnya yang menjadi ring-pertama yang mencegah anak-anak dari pengaruh berbahaya dengan memberi teladan. Lalu bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja, apakah harus memilih tidak bekerja. Tidak, yang harus dilakukan pada awalnya adalah 'niat' dulu, namun 'niat' ini tidak dibuktikan dengan memperbanyak waktu interaksi, tetapi lebih kepada meningkatkan kualitas interaksinya, karena banyak orang tua yang menghabiskan 8 jam sehari dirumah, tetapi anak-nya mendoakannya untuk segera cepat-cepat pergi dari rumah, sebaliknya orang tua yang memiliki sedikit waktu, tetapi ketika pulang selalu disambut antusias oleh anak-anaknya, tentunya sangat membahagiakan. Jadi kuncinya adalah di kualitas interaksi kita, singkirkan sejenak rasa capek bekerja dengan bermain bersama anak, termasuk mendampinginya menonton acara TV tidak sebagai komentator, namun sebagai nara sumber, manakala ada tayangan yang memerlukan penjelasan bagi sianak, sehingga anak merasa nyaman karena ada pendamping yang siap memberikan penjelasan sesuai dengan bahasa dan kemampuan penyerapan ilmunya, ikutlah tertawa jika ada hal lucu, ini akan membuatnya merasa senang karena bisa berbagi kesenangan (ingat kita mahluk sosial), meskipun bagi sebagian kita tentu sudah tidak lucu lagi melihat film kartun misalnya. Lalu bagaimana seandainya pas kita tidak dirumah, sedang dikantor misalnya, sebaiknya tidak pasang kabel antena TV, atau lebih bagus kalo TV anda dilengkapi pengaman channel yang tidak bisa sembarang dibuka, saya lebih suka tidak pasang kabel antena TV lokal karena diacara stasiun TV lokal meskipun pada saat itu menayangkan acara anak-anak, tetapi perhatikan kadang pada saat jeda iklanpun mereka menyisipkan iklan sinetron yang berisi adegan menangislah, menamparlah atau bermesraan. padahal waktu itu adalah slot acara anak-anak. yang saya lakukan adalah menyediakan film sendiri toh sekarang DVD player sudah dibawah 500 ribu, karena kita bisa melakukan seleksi sendiri apa yang akan dan aman ditonton oleh anak-anak, saya mengkoleksi DVD baby einstein dari 0 tahun - 3 tahun (klip ini saya ambil ketika anak saya nonton DVD baby einstein tentang animals untuk usia 1th) saya juga mengkoleksi film-filmnya Disney dan Pixar. Pasang lagi kabel antena jika anda sampai dirumah jika ingin melihat tayangan lokal dan pendampingan. Saat ini saya berlangganan TV kabel, karena ada channel yang benar-benar berisi khusus untuk anak-anak yang sesuai dengan usianya selama 24 jam. tetapi ingat menonton TV juga ada batasnya, yang paling sehat adalah tetap berikan anak ruang untuk selalu bisa bereksplorasi dan berkreativitas tanpa TV dengan cara meningkatkan kualitas interaksi kita dengan anak kita.
Acara smackdown sendiri di negara asalnya sudah berlangsung lama, namun kita jarang sekali kita mendengar kejadian karena pengaruh acara TV smackdown seperti di Indonesia, kemudian sekarang ini yang lagi menjadi topik adalah acara sinetron yang tidak mendidik maupun tayangan reality show yang mengada-ada hingga mengorek kehidupan pribadi orang lain (apa bedanya dengan acara gosip ya?). seperti sudah saya singgung diatas semua ciptaan manusia selalu memiliki dua sisi, contoh sederhana adalah pisau dapur yang tajam jika digunakan sesuai dengan tujuannya hasilnya akan baik, tetapi jika digunakan untuk menodong orang, atau menjadi mainan anak kecil maka hasilnya akan fatal. Smackdown mengajarkan kekerasan, sinetron hanya mengajarkan romansa sempit, gosip dan reality show hanya mengajarkan hal yang tidak ada manfaatnya sama sekali untuk menilai seseorang secara negatif, dan sebagainya.
Namun TV juga sarana yang sangat efektif bagi anak untuk belajar, mengapa? karena kemampuan otak kita akan lebih mudah menyerap sesuatu secara visual dibandingkan bila hanya dengan mendengar dan membaca. Anak-anak akan mudah sekali belajar mengenai hewan dari tayangan TV, kejadian morfologis dari kupu-kupu, katak, pemahaman akan warna, bentuk, tentunya akan merangsang pikiran kreatif dalam otaknya, serta menambah kemampuan kosa katanya karena mendengar dan melihat.
Nah, bagaimana sikap kita sebagai orang tua, ini yang harus menjadi perhatian kita, bila kita selalu menempatkan diri bahwa orang tua adalah sumber pengetahuan yang pertama bagi anaknya tentu kejadian seperti kasus smackdown tidak akan terjadi, banyak orang tua/pengasuh yang menganggap TV sebagai 'babysitter' dengan membiarkan sianak anteng didepan tv yang penting tidak rewel dalam waktu lama tanpa didampingi. Kita-lah seharusnya yang menjadi ring-pertama yang mencegah anak-anak dari pengaruh berbahaya dengan memberi teladan. Lalu bagaimana dengan orang tua yang sibuk bekerja, apakah harus memilih tidak bekerja. Tidak, yang harus dilakukan pada awalnya adalah 'niat' dulu, namun 'niat' ini tidak dibuktikan dengan memperbanyak waktu interaksi, tetapi lebih kepada meningkatkan kualitas interaksinya, karena banyak orang tua yang menghabiskan 8 jam sehari dirumah, tetapi anak-nya mendoakannya untuk segera cepat-cepat pergi dari rumah, sebaliknya orang tua yang memiliki sedikit waktu, tetapi ketika pulang selalu disambut antusias oleh anak-anaknya, tentunya sangat membahagiakan. Jadi kuncinya adalah di kualitas interaksi kita, singkirkan sejenak rasa capek bekerja dengan bermain bersama anak, termasuk mendampinginya menonton acara TV tidak sebagai komentator, namun sebagai nara sumber, manakala ada tayangan yang memerlukan penjelasan bagi sianak, sehingga anak merasa nyaman karena ada pendamping yang siap memberikan penjelasan sesuai dengan bahasa dan kemampuan penyerapan ilmunya, ikutlah tertawa jika ada hal lucu, ini akan membuatnya merasa senang karena bisa berbagi kesenangan (ingat kita mahluk sosial), meskipun bagi sebagian kita tentu sudah tidak lucu lagi melihat film kartun misalnya. Lalu bagaimana seandainya pas kita tidak dirumah, sedang dikantor misalnya, sebaiknya tidak pasang kabel antena TV, atau lebih bagus kalo TV anda dilengkapi pengaman channel yang tidak bisa sembarang dibuka, saya lebih suka tidak pasang kabel antena TV lokal karena diacara stasiun TV lokal meskipun pada saat itu menayangkan acara anak-anak, tetapi perhatikan kadang pada saat jeda iklanpun mereka menyisipkan iklan sinetron yang berisi adegan menangislah, menamparlah atau bermesraan. padahal waktu itu adalah slot acara anak-anak. yang saya lakukan adalah menyediakan film sendiri toh sekarang DVD player sudah dibawah 500 ribu, karena kita bisa melakukan seleksi sendiri apa yang akan dan aman ditonton oleh anak-anak, saya mengkoleksi DVD baby einstein dari 0 tahun - 3 tahun (klip ini saya ambil ketika anak saya nonton DVD baby einstein tentang animals untuk usia 1th) saya juga mengkoleksi film-filmnya Disney dan Pixar. Pasang lagi kabel antena jika anda sampai dirumah jika ingin melihat tayangan lokal dan pendampingan. Saat ini saya berlangganan TV kabel, karena ada channel yang benar-benar berisi khusus untuk anak-anak yang sesuai dengan usianya selama 24 jam. tetapi ingat menonton TV juga ada batasnya, yang paling sehat adalah tetap berikan anak ruang untuk selalu bisa bereksplorasi dan berkreativitas tanpa TV dengan cara meningkatkan kualitas interaksi kita dengan anak kita.
0 comments:
Post a Comment
New Daddy or Becoming a Daddy Please have comment