Friday, December 19, 2008

Leadership Style

Ayah adalah suami, dan orang selalu menyebutnya sebagai kepala keluarga, pemimpin dalam keluarga terlepas dari kesalahan dan dosa-dosanya sebagai manusia biasa, dia tetap akan menjadi pemimpin dalam lingkup keluarganya. Setiap pemimpin tentu memiliki gayanya sendiri dalam memimpin:
  1. Apakah itu Otoriter
  2. Apakah itu Liberal
  3. Apakah itu Demokrasi
  4. Ataukah campuran dari ketiga gaya diatas
ketika saya melontarkan pertnyaan seperti apakah pemimpin yang baik? jawabannya akan sangat beragam, namun sebagian besar lebih memilih demokrasi sebagai gaya memimpin yang ideal. Namun yang jadi pertanyaan apakah hal itu ideal didalam keluarga.

Disadari atau tidak didalam hidup kita telah mengalami ketiga gaya kepemimpinan tersebut, ketika kita masih balita tentu orang tua kita akan sangat otoriter dalam memimpin karena semua demi keselamatan dan keamanan kita, misalnya ketika anda masih balita anda akan dilarang keras bermain api, memegang kompor dsbnya. Bagaimana kalo kita balik menjadi liberal anaknya bebas main api apa yang terjadi? '"oh anak-ku sudah pintar nyalain kompor "wuzz bisa nyunyut tangannya kebakar, atau dia menjadi terinspirasi untuk mencoba ke bidang atau bahan lain untuk dibakar Ingat Balita memiliki rasa ingin tahu yang besar. kemudia dimasa sekolah menengah tentu gaya orang tua sudah agak melunak alias demokrasi, contoh ketika anda pulang sekolah dan orang tua anda menanyakan apakah ada PR yang harus dikerjakan dan menjawab 'ntar deh bu masih cape nih' ortu anda akan mengiyakan. ketika memasuki usia pendidikan tinggi atau kuliah tentu gaya liberal akan diterapkan, anda mau ada PR atau tidak yang penting kuliah selesai, orang tua tidak terlalu banyak mencampuri karena kalo ditanya ortu anda pasti akan protes karena masih merasa diperlakukan seperti anak kecil.
Lalu gaya seperti apa yang ideal yang diterapkan, yang saya terapkan selama ini adalah gaya yang mendasarkan pada situasi yang dihadapi, terkadang otoriter misalnya waktu nonton TV sudah habis ya habis tidak ada negosiasi, terkadang liberal, seperti ketika si anak minta untuk menggambar silahkan bebas menggambar jika kita menyediakan media yang tepat sianak tidak akan menggambar kemana-mana tadinya saya bebaskan sekali alhasil saya harus 2x mencat dinding kamar rumah mending kalo cuma 1 kamar ini ada 2 kamar sama 1 dinding teras. kemudian acara keluar rumah pada hari libur saya biasanya berdemokrasi dengan si anak untuk memilih tempat jalan-jalan, namun tetep kita batasi dengan bilang untuk janji tidak rewel, tidak minta yang aneh2 maka boleh yang lainnya diminta.
Ini adalah gaya memimpin situasional yang saya terapkan termasuk pemberian reward kalo sianak meraih prestasi seperti misalnya berhasil mandi sendiri, mau minum obat atau vitamin, dan sebagainya dan reward tidak mesti harus berbentuk hadiah memberikan pujian secara tulus juga sudah termasuk reward, karena intinya adalah perhatian kita kepada si anak dan itulah yang dia butuhkan.

moral of this topics:
Apapun gaya kepemimpinan anda kuncinya adalah dengan terus memberikan pemahaman dan pengertian kepada sianak mengenai sesuatu yang dilarang, dan sesuatu yang harus dilakukan. dan anda sebagai kepala keluarga tetap andalah yang harus memegang kendalinya namun sesuaikan dengan kebutuhan si anak.

0 comments:

Post a Comment

New Daddy or Becoming a Daddy Please have comment